Situs Makam Hilir dikenal dengan situs
Kyai Nursalim, situs ini tidak terlalu jauh dari makam girang, dan
kondisinyapun sama, sama-sama dijadikan TPU Dusun Cariu Desa Sukadana. Jarak situs
sekitar 100 meter dari Jln. Kudapawana, sebelum masuk terdapat sebuah gapura
setinggi 1 meteran, dengan tulisan Makam Kyai Nursalim. Didalamnya terdapat
makam yang dikeramatkan oleh masyarakat dan dipercaya sebagai seorang tokoh
pembawa agama Islam, dan orang pertama yang mendirikan sebuah masjid dan
pesantren. Makam utama adalah makam kyai Nursalim dengan ukuran makam sekitar
2 m x 1 m dan isterinya dengan ukuran makam yang sama, orientasi makam
utara-selatan, dan sebagiannya sudah tertimbun akar bambu.
Selain itu, ada makam Toha Muhamad
(anaknya Kyai Nursalim), Makam Ki Gede Amsari, Makam Kyai Sadaparan, dan sebuah
Pendeman Qur’an. Di Cariu Kyai Nursalim mendirikan
pesantren, yang letaknya berada di sekitar Situs. Luas pesantrennya kurang
lebih seluas situs sekarang, yang didalamnya terdapat pula sebuah mesjid,
muridnya cukup banyak, sehingga dibantu oleh Ki Gede Amsari.
Sepeninggal
Kyai Nursalim, pimpinan pesantren digantikan oleh anaknya yaitu Toha Muhammad.
Pada masa ini terjadi penyerangan yang dilakukan oleh masyarakat yang belum
menganut Islam terhadap lingkungan pesantren, Karena dalam posisi lemah dan
terdesak, untuk menyelamatkan Al-Quran, istri Toha Muhammad kemudian
menyembunyikan Al Quran dengan cara dikubur di depan mimbar di dalam masjid. Areal
bekas masjid tempat menguburkan Al-Quran tersebut higgga sekarang masih ada di
lokasi sekitar situs yang biasa disebut pendeman Qur’an.
Selang
beberapa tahun kemudian datanglah seorang tokoh agama dari Cirebon yang bernama
Anta. Ia datang dengan menyusuri sungai Cisadap ia berjalan sakaparan-paran
(tidak jelas tujuannya). Hingga kemudian bermukim di suatu tempat dengan
mendirikan pesantren dan sebuah masjid. Tempat mendirikan pesantren tersebut
kemudian diberi nama Sadaparan