Gunung maniis berada di blok Pasir Luhur, Dusun
Desa, Desa Bunter, Kecamatan Sukadana. Berada di sebuah bukit (pasir) perkebunan yang diolah oleh warga,
komplek situs berada di tengah rimbunan pohon bambu di bagian puncak bukit.
Gunung Maniis berarti Gunung (bukit) tempat maniis
(berteduh/beristirahat), konon menurut kuncen tempat ini merupakan tempat niis(istirahat) para ulama cirebon dalam
menyebarkan agama islam di daerah yang menjadi Dusun Desa, sekarang. Selain
sebagai ulama mereka merupakan seorang juru tulis, yang selalu melakukan tulis
menulis/catat mencatat di Pasir Luhur/Situs Gunung Maniis sekarang, namun tidak
diketahui juru tulis dimana apakah juru tulis setempat atau juru tulis utusan,
atau mungkin juru tulis disini maksudnya seorang penulis naskah atau pujangga,
belum ada keterangan yang pasti.
Struktur situs berupa beberapa titik petilasan,
petilasan pertama, Kyai Jagalaya berupa dua buah batu tanpa jirat satu batu
berbentuk bulat satu lagi berbentuk pipih berdiri. Kedua petilasan Kyai
Jagayuda, berupa tiga buah batu tanpa jirat, satu batu berbentuk segi tiga, dua
batu berbentuk lonjong. Lalu petilasan Kyai Jawariya dan Kyai Sindanglaya,
kedua petilasan memiliki bentuk yang mirip yaitu satu tumpuk batu dengan lingga
ditengahnya dan sebuah batu demprak (pipih) yang berukuran cukup besar
disampingnya. Bentuk situs seperti ini biasanya merupakan peralihan dari masa
klasik ke islam, dimana pengaruh masa klasik masih ada walaupun lingkungan
sekitar sudah beragama islam.
Selain itu ditemukan pula sebuah struktur batu yang
diduga berupa punden namun sudah dirobohkan, di bagian batu paling besar
terdapat 3 lubang seperti batu lumpang, untuk memastikan fungsi batu tersebut
di zaman dahulu perlu penelitian lebih lanjut. Beberapa warga masih sering
ziarah ke situs tersebut terutama di hari senin kliwon dan kamis kliwon.