Situs Samida berada di lahan milik Pemerintah Desa Sirnajaya seluas 320 m² yang terletak di area tertinggi di antara Desa Sirnajaya dan Desa Rajadesa. Saat sekarang lokasi tersebut dikembangkan oleh pemerintah Desa Sirnajaya menjadi Bumi Perkemahan Samida sejak tahun 2019. Situs Samida dapat diakses melalui Jalan Rancamaya yang menghubungkan wilayah Rajadesa dengan wilayah Sirnajaya. Saat ini, Situs Samida telah ditetapkan sebagai Situs Cagar Budaya Peringkat Kabupaten Ciamis dengan Nomor: STS-002/TACB-CMS/23/04/2021 yang disahkan oleh Bupati Ciamis.
Situs
Samida berada di titik koordinat 07°10'50" LS, 108°26'32" BT dengan
ketinggian 465 mdpl. Situs Samida memiliki Juru Pelihara yang ditugaskan oleh
Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi Jawa Barat serta seorang Juru Kunci (kuncen).
Tinggalan arkeologis yang terdapat di Situs Samida antara lain berupa struktur batu melingkar yang disebut oleh masyarakat setempat sebagai Teras Batu Samida dan struktur batu melingkar yang disebut Pagempungan. Secara deskriptif masing-masing tinggalan adalah sebagai berikut:
Teras Batu Samida yang terletak di titik koordinat 07°10'50" LS 108°26'32" BT dengan elevasi 465 mdpl, berukuran lingkaran 4.30 m dan tinggi 45 cm. Batu tegak yang berada di puncak struktur memiliki ukuran tinggi 44 cm, lebar 23 cm, dan tebal bagian atas 17 cm.
Pagempungan yang terletak
di titik koordinat 07°10'50" LS, 108°26'32" BT dengan elevasi 465
mdpl. Pangempungan merupakan struktur
berbentuk lengkung yang tersusun dari bongkahan batu andesit. Struktur ini
memiliki lebar 95 cm, lebar bagian struktur yang melengkung 150 cm, lebar kaki
bagian tenggara 115 cm. Di bagian kaki sisi barat Pagempungan terdapat 4 menhir
dan 2 menhir di sisi timur laut. Menhir
1 yang berada paling barat daya memiliki ukuran tinggi 55 cm, lebar kaki 27 cm,
tebal 10 cm dan di bagian tengah menhir terdapat lobang berdiameter 10 cm.
Menhir 2 berada di sisi timur dengan jarak 75 cm dari menhir 1. Menhir 2
memiliki ukuran tinggi 47 cm, lebar kaki 25 cm, tebal 15 cm. Menhir 3 terletak
di sisi tenggara dengan jarak 210 cm dari menhir 2. Menhir 3 memiliki ukuran
tinggi 90 cm, lebar kaki 47 cm, dan tebal cm. Menhir 4 terletak di sisi utara
dengan jarak 240 cm dari menhir 3. Menhir 4 memiliki ukuran tinggi 52 cm, lebar
cm, dan tebal 22 cm.
Masyarakat
setempat meyakini bahwa Situs Samida merupakan kawasan yang memiliki peran
penting berdirinya Rajadesa. Berdasarkan informasi dari masyarakat setempat,
hingga saat ini di Kawasan Samida masih bayak ditemukan pecahan keramik dan
kerak besi yang mengindikasikan bahwa kawasan Samida dan sekitarnya merupakan
bekas pemukiman kuno. Selain itu, menurut cerita rakyat yang berkembang di
lingkungan masyarakat tabet Samida,
disebutkan bahwa di kawasan ini pernah berdiri pusat pemerintahan pada masa
Prabu Sirnaraja (Radea, 2019).
Berdasarkan kajian perbandingan, struktur batu di Situs Samida memiliki persamaan tipologi bentuk dengan struktur yang terdapat di puncak Bukit Badigul di Kota Pakwan Pajajaran yang dibuat pada masa Sri Baduga Maharaja. Secara fungsi, Samida merupakan hutan tempat seorang raja melakukan ritual keagamaan seperti yang diinterpretasikan dari Prasasti Batutulis (Budimansyah, 2019).