Upacara Adat Ngikis adalah upacara adat yang telah dilaksanakan secara turun-temurun oleh masyarakat Karangkamulyan di setiap menjelang bulan suci Ramadhan. Upacara Adat Ngikis adalah salah satu tanda penghormatan terhadap leluhur masyarakat Karangkamulyan
Ngikis artinya mensucikan diri dengan memagar hati menjaga dari perbuatan tercela, seminggu menjelang Bulan Ramadan. Simbolnya dengan memagar situs. Supaya saat melaksanakan ibadah puasa, diri sudah dalam keadaan benar-benar bersih.
Upacara Adat Ngikis merupakan upacara adat yang sudah ada sejak lama, yaitu sejak sekitar 150 tahun lalu. Upacara Adat Ngikis ini sudah dilaksanakan secara turun-temurun oleh seluruh masyarakat Karangkamulyan dari dulu hingga sekarang. Ngikis berasal dari bahasa Sunda yaitu “kikis” yang berarti pager awi anu kerep (pagar bambu yang rapat) (Satjadibrata, 1948: 147). Ngikis secara harfiah berarti memagar. Pada masa lalu Ngikis lebih bersifat fisik yakni mengganti pagar singgasana Raja di situs Pangcalikan. Warga dari berbagai dusun datang sembari membawa bambu untuk digunakan memagari singgasana raja, yang rutin dilaksanakan setiap satu tahun sekali menjelang bulan suci Ramadhan. Selain itu Ngikis juga dimaknai sebagai sarana untuk memagari dan membersihkan diri dari perilaku buruk dan hawa nafsu jahat, sehingga ketika masuk bulan Ramadhan diri dalam keadaan bersih (suci) dan dapat terhindar dari sifat-sifat tercela. Dimana inti dari puasa adalah memagari hawa nafsu, baik nafsu lahir (makan, minum) juga nafsu batin (sex, iri, dengki dan menganiaya orang).
Sejak kapan Ngikis ini dimulai, tidak dapat ditetapkan secara pasti. Tanpa menyebutkan mengenai titik awal dimulainya Upacara Adat Ngikis. Memang sukar ditetapkan angka tahun yang relatif tepat. Sepanjang penelaahan yang peneliti lakukan, sampai sekarang belum ada bukti-bukti otentik yang dapat dijadikan landasan untuk menetapkan angka tahun sejak kapan Upacara Adat Ngikis itu ada, karena untuk Upacara Adat Ngikis ini tidak ada dokumen tertulis yang membahasnya. Namun, dari beberapa penjelasan narasumber yang penulis wawancarai, dapat diperkirakan bahwa Ngikis ini sudah ada sejak sekitar tahun 1800-an, Upacara Ngikis sudah dilaksanakan kurang lebih oleh 8 orang kuncen, yang terdiri atas 1) Wangsa Di Kara; 2) Karta Wisastra; 3) Haji Jakaria; 4) Jaya; 5) Basri; 6) Eundan Sumarsana; 7) Perdi; 8) Kistia. Jika dihitung mundur dari seberapa lama kuncen itu menjabat, maka dapat diperkirakan Ngikis sudah ada sejak tahun 1800-an atau sejak sekitar 150 tahun silam.
Ngikis ini merupakan upacara adat hasil akulturasi antara Islam, Hindu dengan kebudayaan asli, dimana proses akulturasi tersebut terjadi melalui pertemuan dari budaya Hindu, Islam dan kepercayaan asli masyarakat Karangkamulyan sendiri. Hal tersebut berdasarkan sejarah Situs Karangkamulyan yang sudah ada sejak masa Hindu. Sehingga dari akulturasi budaya tersebut menghasilkan sebuah Upacara Adat Ngikis. Upacara Adat Ngikis dilaksanakan sebagai bentuk penghormatan masyarakat Karangkamulyan terhadap nenek moyang mereka. Geertz (1981: 103) mengatakan bahwa pemujaan terhadap nenek moyang dewasa ini, tidak lebih dari suatu pernyataan hormat yang tulus kepada almarhum (orang yang sudah meninggal dunia), ditambah suatu kesadaran yang hidup tentang perlunya berlaku baik terhadap almarhum (nenek moyang) dan menjamin bahwa sekadar nasi dan bunga-bungaan akan disampaikan kepada mereka. Apa yang disampaikan Greetz dalam bukunya ini sesuai dengan apa yang dilakukan oleh masyarakat Desa Karangkamulyan melalu Upacara Adat Ngikis sebagai bentuk pernyataan hormat dan kesadaran dari orang yang hidup tentang perlunya berbuat baik terhadap orang yang sudah tiada (meninggal) yaitu nenek moyang mereka, karena mereka menyadari bahwa perlunya menggali tradisi agar tidak “putus wekas” (putus jejak/keturunan) atau pareumeun obor.
Ritual adat ngikis yang dilaksanakan di situs karangkamulyan menjelang bulan suci ramadhan hari senin atau kamis. Kegiatan tersebut sudah turun temurun sejak dulu sudah generasi ke-7 juru kunci, yang di selenggarakan oleh masyarakat Desa Karangkamulyan bahkan sekarang sudah jadi kalender tahunan budaya di Kabupaten Ciamis. Ngikis berasal dari bahasa daerah yaitu beberesih dalam arti membersihkan dan memagar tinggalan yang ada di situs Karangkamulyan, ngikis mengandung pilosofi yaitu membersihkan diri dan memagar/menjaga perbuatan yang tidak baik ( jangan iri dengki pada orang lain ).
Kegiatan ngikis:
1. Menyatukan banyu suci dari kabuyutan se Nusantara Artinya air merupakan untuk thaharah dari hadas kecil maupun besar;
2. Memagar batu pangcalikan atau singgasana artinya kita menjaga keutuhan tinggalan kerajaan galuh yang ada di situs Karangkamulyan:
3. Memakan nasi tumpeng bersama dalam arti hidup kita harus kebersamaan;
4. Ada gunungan buah-buahan di bagikan ke masyarakat dalam arti kita harus berbagi rezeki.
( Sumber: Sodikin S.Pd, MM, Ketua Kawargian Adat Karangkamulyan ).
Upacara Adat Ngikis merupakan upacara adat yang diciptakan berdasarkan pertimbangan keindahan, seni, emosi (perasaan) dan akhlak serta adat istiadat masyarakat Karangkamulyan. Upacara Adat Ngikis lebih mendekati bagian dari ritual keagamaan yang merupakan hasil dari proses akulturasi antara Hindu, Islam dan kepercayaan asli (animisme, dinamsme). Masyarakat Tatar Galuh (Karangkamulyan) meyakini bahwa siapa pun yang telah meninggal, rohnya akan selalu ada di sekitar masyarakat (Aip, wawancara 19 Maret 2018). Ini merupakan kepercayan asli (animisme dinamisme) yang sampai sekarang masih tertanam dan diyakini oleh masyarakat Karangkamulyan. Ngikis adalah bagian dari penghormatan kepada leluhur yang telah meninggal dunia, terutama leluhur Galuh yang tersebar di Tatar Galuh khususnya Situs Karangkamulyan.
Untuk video repost dari akun youtube DADANG CIAMIS :https://www.youtube.com/embed/Jp2lNoVaSe8