Seperti halnya dengan kisah Nonong Rorokidul yang
mempunyai kesaktian dalam berpindah tempat dengan sekejap mata, dikisahkan pula
mengenai kedatanagn seorang putri yang datang kedaerah Gunung Syawal laksana
bagaikan cahaya yang melayang dan turun di daerah itu yang pada saat itu Nonong
Rorokidul masih menetap di daerah Gunung Syawal. Nonong Rokidul melihat
kedatangan kilatan cahaya itu dan bertanya pada cahaya tersebut “Kamu mau
kemana dan mau apa dating kesini?” perlahan cahaya itu berubah wujud menjadi
seorang putri dan menjawab pertanyaan dari Nonong Rorokidul “Saya adalah Putri
Nyai Dewi Marahmah Galih, dan apakah kamu sudah bertemu dengan Kiyai Salam?”
kemudian Nonong Rorokidul pun menjawab kembali “Sudah” dan cahaya itu dengan
perlahan turun dan berubah wujud menjadi Putri Nyai Dewi Marahmah Galih yang
menginjakkan kakinya di atas batu, namun dengan kesaktiannya tapak kakinya
diatas batu itu membekas namun dengan arah kaki kanan dan kaki kiri yang
berlawan. Batu tersebut sampai saat ini disebut dengan Petilasan Batu Tapak
Putri yang diyakini sebagai petilasan dari Putri Nyai Dewi Marah. Narasumber:
Galih masyarakat sekitar.